Minggu, 27 Januari 2008

Tentang Mimpi

Aku akui, perih hati ini kadang memang masih terasa sejak kejadian itu. tapi aku nggak mau membencimu, walau aku harus melewati seutas jalan berbatu dan mendaki bukit derita. juga tak kupungkiri bila butir manik-manik derita acap kali mengalir dari kedua belah pelupuk mataku.
aku tetap bertekad untuk berdiri tegak mewarnai kehidupanku. aku yakin esok masih bergulir dan aku akan menitik sua berbait beda (barangkali, kelak). maka aku akan tetap menulis dari jemariku, lusapun aku ikuti. tentu selepas segala perih ini berlalu. dan aku hanya bisa menghibur diri dengan air mata dalam duka yang sunyi.

Mungkin aku memang rapuh, tapi akan tetap kucari batas yang memisahkan gelisah dan damai, meski aku hanya berbekal seikat rumput yang tergenggam di antara jemariku.
aku nggak mau segalanya berjalan penuh inspirasi, tapi tiba-tiba semua inspirasi itu buyar, terhapus oleh kemarau yang mengusap hujan.

Jadi, kembalilah segera ke duniamu, hingga hidupmu menemukan hidup yang sejati. aku ingin kau buka hatimu lebih dalam; biarkan kewajaran selalu datang dalam sebuah irama keselarasan. hingga akhirnya kau sadar bahwa cinta nggak akan datang jika dirimu masih kau anggap milikmu sendiri...
saat itu kamupun akan sadar, selama ini kamu terbelenggu dalam mimpi. dan perlu kau tau bahwa ada mimpi yang benar-benar sungguh dan ada kesungguhan yang cuma mimpi...!